هنا مصنع الرجال

هنا العزة والإيثار ووحدة الصف
هنا تُغرس مبادئ الثبات الذي لاتزحزحه البلايا والمحن بإذن الله
منها خرجوا وإليها عادوا ومنها يخرجون أكثر عزماً ويقيناً 

بموعود الله لعباده بالنصر والتمكين

PERKARA-PERKARA JAHILIYYAH

️:قال الشيخ محمد بن عبد الوهاب رحمه الله تعالى
[4] : أن دينهم مبني على أصول أعظمها التقليد، فهو القاعدة الكبرى لجميع الكفار أولهم وآخرهم، كما قال تعالى: {وكذلك مآ أرسلنا من قبلك في قرية من نذير إلا قال مترفوهآ إنا وجدنا ءاباءنا على أمة وإنا على ءاثرهم مقتدون} وقال تعالى: {وإذا قيل لهم اتبعوا ما أنزل الله قالوا بل نتبع ما وجدنا عليه ءابآءنآ أولو كان الشيطان يدعوهم إلى عذاب السعير}، فأتاهم بقوله: {قل إنمآ أعظكم بواحدة أن تقوموا لله مثنى وفرادى ثم تتفكروا ما بصاحبكم من جنة}، وقوله: {اتبعوا مآ انزل إليكم من ربكم ولا تتبعوا من دونه أولياء قليلا ما تذكرون}.  

4/ مسألة من مسائل الجاهلية:128        

️ شيخ الإسلام محمد بن عبد الوهاب

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah ta’ala berkata:
[4] : Sesungguhnya agama mereka (orang-orang jahiliyyah) dibangun di atas dasar landasan yang terbesar, yaitu taklid. dan ini merupakan kaidah yang terbesar bagi orang kafir, dari generasi awal dan akhirnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
” Dan demikianlah kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 23)

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, Ikutilah apa yang diturunkan oleh Allah.’ Mereka menjawab,'(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.’ Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka), walaupun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyela-nyala (neraka).” (QS. Luqman: 21)
Selanjutnya Allah mendatangkan (dalil) kepada mereka dengaqn firman-Nya:

” Katakanlah,’Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepada kalian satu hal saja, yaitu supaya kalian menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri. Kemudian kalian berpikirlah, bahwa teman kalian itu (yakni Muhammad) tidak memiliki penyakit gila sedikitpun.” (QS. Saba’: 46)
Dan firman Allah subhanahu wata’ala:

”Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikit lah kamu mengambil pelajaran:(daripadanya).” (QS. Al-A’raf:3)

➖➖➖➖➖
Di antara masalah Jahiliyyah adalah mereka tidak beragama sebagaimana ajaran yang dibawa oleh para Rasul kepada mereka, akan tetapi mereka membangun agama mereka di atas landasan yang mereka bangun sendiri dan tidak menerima perubahan darinya. Diantara pondasi agama mereka yaitu ; taklid (fanatisme), yaitu cerita-cerita dan kabar yang diikuti antar sesama mereka, meskipun yang diikuti tidak pantas dijadikan panutan.
firman Allah Subhana:
“Dan demikianlah kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka’.” (QS. Az-Zukhruf: 23)

Orang-orang yang hidup mewah yaitu orang-orang yang sejahtera hidupnya dan banyak harta secara umum, karena mereka orang-orang yang tidak baik dan tidak menerima kebenaran. Berbeda dengan kaum dhuafa dan orang fakir, mayoritas mereka bersikap rendah hati dan menerima kebenaran. Ahlu tarf adalah orang yang memiliki kedudukan dan harta.
Adapun taklid dalam kebaikan maka disebut dengan ittiba dan iqtida. Allah berfirman tentang Yusuf ‘alaihis-salam:
وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آبَائي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ مَا كَانَ لَنَا أَنْ نُشْرِكَ بِاللَّهِ مِنْ شَيْءٍ

“Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya)” ( QS. Yusuf : 38 ).
Dan firman-Nya : 
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَان”

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik…”. (QS. at-Taubah : 100).
Oleh karena itu Allah berfirman berkaitan dengan kaum Jahiliyyah :
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلا يَهْتَدُونَ 

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (QS. al-Baqarah : 170 ).

Berkata imam ath-Thabari rahimahullah:
فكيف أيها الناس تَتَّبعون ما وجدتم عليه آباءكم فتتركون ما يأمرُكم به ربكم، وآباؤكم لا يعقلون من أمر الله شيئًا، ولا هم مصيبون حقًّا، ولا مدركون رشدًا؟ وإنما يَتّبع المتبعُ ذا المعرفة بالشيء المستعملَ له في نفسه, فأما الجاهل فلا يتبعه -فيما هو به جاهل- إلا من لا عقل له ولا تمييز.

 “Wahai sekalian manusia, mengapa kalian mengikuti apa yang kalian dapati dari nenek moyang kalian dan meninggalkan apa yang diperintahkan oleh Rabb kalian? Padahal nenek moyang kalian itu tidak memahami perintah Allah sedikit pun. Mereka juga tidak berada di jalan yang benar.  Tidak pula mereka mendapat bimbingan petunjuk. 
Hal ini karena seseorang yang diikuti adalah orang yang memiliki pengetahuan terhadap sesuatu yang akan dimanfaatkan untuk dirinya. Orang yang jahil (bodoh, tidak mengetahui) tidak diikuti (dalam hal-hal yang tidak diketahuinya) melainkan oleh orang yang tidak memiliki akal dan pembeda.” (Tafsir ath-Thabari)
Sumber : [[ KHOIRU UMMAH ]]

TALBIS ALBANI

MEMBONGKAR KEDOK SALAFI MURJI’AH
BANTAHAN ATAS SYUBHAT TALBIS IBLIS ULAMA SUU’ 

Oleh : Syaikh Abdul Qadir Bin Abdul Aziz.

KUFUR ASGHAR:

Dalam Kasetnya yang berjudul : “Min Manhajil Khawarij“ (Manhaj Khawarij). 

Direkam pada tanggal 29 Jumadil Akhirah 1416 H bertepatan dengan tanggal 23 Oktober 1995 M, dengan nomor 1/830 dari nomor berseri : “ Silsilatu Al – Huda Wa An – Nuur ”, 

Nashirudin Al – Albani menyerang mujahidin yang berjihad melawan para penguasa sekuler. 

Beliau menyatakan kekafiran para penguasa sekuler tersebut adalah kafir asghar, dengan dasar atsar shahabat Ibnu Abbas dan beberapa ulama tentang atsar “kufrun duna kufrin” (tafsir surat Al – Maidah, ayat : 44. 45, 47 ). Beliau menuduh mujahidin sebagai khawarij yang mentakwil ayat – ayat tersebut dengan takwilan bathil yang menyelisihi tafsiran kaum salaf, bahkan menyelisihi ulama tafsir, fiqih dan hadits setelah generasi salafus sholih. Menurutnya, dengan penyelisihan ini, mujahidin telah menyelisihi firqah najiyah dan tidak termasuk firqah najiyah. Sikapnya ini juga diikuti banyak muqollidinnya, yang menyatakan kekufuran para penguasa sekuler negeri-negeri kaum muslimin hari ini sekedar kufur asghar.

JAWABAN ATAS SYUBHAT :
{ 1 } – Kalaulah Nashirudin Al-Albani dan para ulama lain menyatakan penguasa negeri-negeri ini tidak kafir dengan alasan menetapkan hukum positif dan menjalankan hukum positif yang menihilkan syariah islam sekedar kufur asghar — berdasar kepada atsar Ibnu Abbas tersebut dan atsar beberapa murid beliau —, maka kalaulah pendapat ini diterima, vonis kafir dan murtad tetap mengenai para penguasa tersebut karena kekafiran mereka tidak hanya karena menjalankan atau menetapkan hukum positif semata melainkan selain itu adalah :
NASIONALISME : SEMUA ULAMA SEPAKAT MENYATAKANNYA SEBAGAI KAFIR AKBAR.
DEMOKRASI : ADALAH KAFIR AKBAR.
1. Menyatakan hukum positif mereka lebih baik dari hukum Allah Ta’ala dan lebih sesuai dengan perkembangan zaman : adalah kafir akbar.
2. Menganggap hukum positif sereka sama baik dengan hukum Allah Ta’ala : adalah Kafir Akbar.
3. Menegakkan pengadilan-pengadilan Hukum positif : adalah kafir akbar.

4. Meyakini Mereka tidak wajib menerapkan hukum Allah Ta’ala, mereka bebas hendak menerapkan hukum positif atau hukum Allah Ta’ala : adalah kafir akbar.

5. Sekulerisme : adalah kafir akbar.
6. Membantu musuh-musuh Islam dalam memerangi umat islam : adalah kafir akbar.
MAKA, ALASAN KUFUR ASGHAR TIDAK BISA MENGGUGURKAN STATUS HUKUM KAFIR DAN MURTAD PARA PENGUASA TERSEBUT, KARENA KEKAFIRAN MEREKA SANGAT PARAH DAN KARENA BANYAK ALASAN.
{ 2 } – Status keshahihan atsar Ibnu Abbas rhadiyallahu ‘anhu. Ada beberapa atsar dari Ibnu Abbas mengenai ayat ini, sebagiannya memvonis kafir secara muthlaq atas orang yang berhukum dengan selain hukum Allah, sementara sebagian atsar lainnya tidak menyebutkan demikian. 

Karena itu, dalam menafsirkan ayat tersebut ada penjelasan rinci yang sudah terkenal.
* Imam Waki’ meriwayatkan dalam Akhbarul Qudhah 1/41, ” Menceritakan kepada kami Hasan Bin Abi Rabi’ Al – Jurjani ia berkata, : telah menceritakan kepada kami Abdu Razaq dari Ma’mar dari Ibnu Thawus dari bapaknya ia berkata, : ” Ibnu Abbas telah ditanya mengenai firman Allah, : ” 

{Dan barang siapa tidak memutuskan perkara dengan hukum Allah maka mereka itulah orang-orang yang kafir }. “Beliau menjawab,” cukuplah hal itu menjadikannya kafir.”
Sanad Atsar ini shahih sampai kepada Ibnu Abbas, para perawinya adalah perawi ash shahih selain gurunya Waki’, yaitu Hasan Bin Abi Rabi’ Al – Jurjani, ia adalah Ibnu Ja’d al ‘Abdi. Ibnu Abi Hatim mengatakan perihal dirinya, ” aku telah mendengar darinya bersama ayahku, ia seorang Shaduq. ” 

Ibnu Hiban menyebutkannya dalam Ats – Tsiqat. { 1 }. 

Dalam At – Taqrib 1/505 Al – Hafidz Mengomentarinya,” Shaduq. ”Dengan Sanad Imam Waki’ Pula Imam Ath – Thabari { 12055 } Meriwayatkannya, namun dengan lafal, ”dengan hal itu ia telah kafir. ” Ibnu Thawus berkata, : ” Dan bukan seperti orang yang kafir dengan Allah, malaikat dan kitab-kitab-Nya. ” Riwayat ini secara tegas menerangkan bahwa Ibnu Abbas telah memvonis kafir orang yang berhukum dengan selain hukum Allah tanpa merincinya, sementara tambahan “Dan bukan seperti orang yang kafir dengan Allah, malaikat dan kitab-kitab-Nya ” 

Bukanlah pendapat Ibnu Abbas, melainkan pendapat Ibnu Thawus. { 2 }.

* Memang benar, ada tambahan yang dinisbahkan kepada Ibnu Abbas dalam riwayat yang lain, 

Yaitu riwayat Ibnu Jarir Ath – Thabari {12053} menceritakan kepada kami waki’, telah menceritakan kepada kami Ibnu waki’ ia berkata telah menceritakan kepada kami ayahku dari Sufyan dari Ma’mar Bin Rasyid dari Ibnu Thawus, dari ayahnya dari Ibnu Abbas, ” 

{ Dan Barang Siapa Tidak Memutuskan Perkara Dengan Hukum Allah Maka Mereka Itulah Orang – Orang Yang Kafir }.
Ibnu Abbas berkata, : ” dengan hal itu ia telah kafir, dan bukan kafir kepada Allah, malaikat, kitab-kitab dan rasul-rasul-Nya. ” { 3 }.

Sanad atsar ini juga shahih, para perawinya adalah para perawi kutubus sitah selain Hanad dan Ibnu Waki’. Hanad adalah Hanad Bin Sariy Bin Mush’ab As – Sariy Al – Hafidz Al – Qudwah, para ulama meriwayatkan darinya kecuali Imam Bukhari. { 4 }

Adapun Ibnu Waki’ Adalah Sufyan Bin Waki’ Bin Jarrah. Imam Ibnu Hibban dan juga Al – Hafidz berkata, : ” Ia seorang shaduq hanya saja ia mengambil hadits yang bukan riwayatnya, maka haditsnya dimasuki oleh hadits yang bukan ia riwayatkan. Ia telah dinasehati, namun ia tidak menerima nasehat tersebut sehingga gugurlah haditsnya. ” { 5 }.

Hanya saja ini tidak membahayakan, karena Hanad telah menguatkannya.

Kesimpulannya, tambahan ini dinisbahkan kepada Thawus dalam riwayat Abdu Razaq dan dinisbahkan kepada Ibnu Abbas dalam riwayat Sufyan Ats – Tsauri. Akibatnya ada kemungkinan ini bukanlah perkataan Ibnu Abbas, tetapi sekedar selipan dalam riwayat Sufyan. Ini bisa saja terjadi, terlebih waki’ dalam akhbarul qudhat telah meriwayatkan atsar ini tanpa tambahan. Namun demikian hal inipun belum pasti. Boleh jadi, tambahan ini nemang ada dan berasal dari Thawus dan Ibnu Abbas sekaligus, dan inilah yang lebih kuat. 

Wallahu A’lam.
* Al – Hakim dalam Al – Mustadrak 2/313 telah meriwayatkan dari Hisyam Bin Hujair dari Thawus ia berkata, : ” Ibnu Abbas berkata, : ”bukan kufur yang mereka (khawarij) maksudkan. Ia bukanlah kekufuran yang mengeluarkan dari millah. {Dan barang siapa tidak memutuskan perkara dengan hukum Allah maka mereka itulah orang-orang yang kafir } : maksudnya adalah kufur duna kufrin.” Al – Hakim Mengatakan, : ” Ini Adalah Hadits Yang Sanadnya Shahih. ” Atsar Ini Juga Diriwayatkan Oleh Ibnu Abi Hatim { 6 }. 

Dari Hisyam Bin Hujair dari Thawus dari Ibnu Abbas mengenai Firman Allah Ta’ala : { Dan barangsiapa tidak berhukum dengan hukum Allah maka nereka adalah orang-orang kafir }

Beliau Berkata, : ” Bukan kekufuran yang mereka maksudkan. ”

Hisyam Bin Hujair seorang oerawi yang masih diperbincangkan. Ia dilemahkan oleh Imam Ahmad Bin Hanbal, Yahya Bin Ma’in dan lain-lain. { 7 } 

Ibnu ‘Ady menyebutkannya dalam al – Kamil Fi Dhu’afai Rijal 7/2569. Demikian juga oleh Al – ‘Uqaily dalam Al – Dhu’afa Al – Kabir 4/238.

PAHALA MELIMPAH BAGI ISTRI

ketaatan seorang wanita di antara kalian kepada suaminya, menyamai (pahala) semua itu*. akan tetapi sedikit dari kalian yang (mampu) melakukannya.

* : shalat berjamaah, mengantar jenazah, umrah dan jihad fi sabilillah.

:​جاءت أسماء بنت يزيد الأنصارية للنبي ﷺ وقالت 

يا رسول الله أنتم معاشر الرجال .. فضلتم علينا بالجمع والجماعات والجنائز وفوق ذلك الجهاد في سبيل الله، وإذا خرج الواحد منكم حاجًّا أو معتمرًا قعدنا في بيوتكم فربينا لكم أولادكم وغزلنا لكم أثوابكم فهل بقي لنا من الأجر شيء يا رسول الله ؟
فسُرَّ النبي صل الله عليه وسلم بقولها والتفت إلى الصحابة وقال:
هل سمعتم مقالة أفضل من هذه ؟ قالوا: ما ظننا أن امرأة تفطن إلى مثل ذلك يا رسول الله.
فقال لها الرسول ﷺ :” ارجعي أيتها المرأة وأعلمي من خلفك من النساء ( *أن طاعة الواحدة منكن لزوجها*) تعدل كل ذلك وقليل منكن تفعله”
(رواه مسلم)